training kader organisasi mahasiswa

September 10, 2007 oleh banus

Masalah Pelatihan Aktivis

Setiap tahun organisasi mahasiswa melakukan training kader yang betujuan untuk menyiapkan calon pengurus mendatang. Tanpa training tentu para pengurus baru akan kesulitan dalam menjalankan fungsinya sebagai pengurus ormawa.

Training bertujuan untuk meningkatkan aspek kemampuan manusia yang meliputi aspek pengetahuan, kemampuan, dan sikap. Kemampuan sendiri dibagi kedalam tiga kategori, yaitu kemampuan manajerial, kemampuan teknis, dan kemampuan membangun hubungan dengan sesama. Berdasarkan fungsi ini maka setelah pelatihan tersebut diharapkan para pengurus baru dapat menjalankan perannya sebagai aktivis secara lebih mudah.

Akan tetapi, dilapangan dari kampus ke kampus kita menemui bahwa para aktivis yang sudah menjalani pelatihan organisasi ternyata belum memiliki pelatihan yang memadai sebagai seorang aktivis. Karena itu, kita sering menjumpai bahwa pengurus baru sering bertanya ke pengurus lama. Lambat laun masalah ini menciptakan ketergantungan pengurus baru kepada pengurus lama atau mantan pengurus organisasi mahasiswa. Kondisi ini menciptakan apa yang kemudian disebut sebagai senioritas dalam sebuah organisasi mahasiswa.

Menurut hemat saya pelatihan yang diberikan tidak erat kaitannya dengan apa yang menjadi kebutuhan para calon pengurus, berdasarkan pengamatan pelatihan-pelatihan kaderisasi organisasi lebih merupakan acara ploncoan dan dagelan saja. Mengapa demikian? Lihat saja pelatihan-pelatihan yang dibuat sering tidak memiliki indikator yang jelas dalam setiap sesinya. Selain itu, materi yang dibuat dalam pelatihan tersebut tidak memiliki dasar litelatur yang kuat. materi yang dibuat dalam pelatihan lebih merupakan turunan dari yang sudah dibuat oleh para pengurus sebelumnya, sehingga kita sering mendengar ini adalah tradisi. Lihat lagi, trainer yang digunakan adalah trainer gadungan, bukan trainer yang sesungguhnya yang mengerti konsep belajar orang dewasa.

Jika setiap tahun pelatihan yang dibuat seperti ini maka tidak heran kalau aktivis tidak dapat diajak kerja nyata. Aktivis lebih banyak bicaranya daripada kerja, karena pelatihan-pelatihan yang dibuat tidak untuk memberikan mereka pengalaman atau ketrampilan kerja yang memadai.

Saran

Pelatihan yang dibuat harus benar-benar merujuk pada definisi pelatihan itu sendiri yaitu proses belajar yang bertujuan mengembangkan aspek pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sesorang. Dan materi yang diajarkan harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh calon pengurus yang secara kontekstual tidak dapat disamakan dengan materi pelatihan pada tahun-tahun sebelumnya. Dan pelatihnya jelas bukan yang gadungan, kalaupun pelatihnya adalah mantan pengurus maka sebaiknya terlebih dahulu harus mengikuti pelatihan tentang bagaimana menjadi seorang pelatih.

Hello world!

September 10, 2007 oleh banus

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!